Jauh sebenarnya dia menempuh perjalanan ke negeri ini, semuanya tentu berawal dengan sukacita. Kebanggaan sebagai penerima beasiswa terjamin dari pemerintah provinsi yang mengantarkannya.
Kursus bahasa pun dimulai untuk dapat pada akhirnya ujian bahasa kedokteran. Untuk memperdalam kemampuan bahasa kedokteran, ia perlu melakukan praktikum di beberapa klinik. Setelah 2 tahun belajar bahasa dan praktikum, masih sulit baginya untuk menguasai standard bahasa yang diwajibkan. Pertanggungjawaban beasiswanya mendesak. Mulai terasa baginya, betapa berat menjalani hidup bergantung pada jaminan pihak lain. Di luar perkiraannya, terjadi pergantian pemimpin daerah provinsi yang dia wakili, was-was apakah beasiswanya masih akan dilanjutkan. Dengan berbagai kontak yang harus dia lakukan, perpanjangan beasiswa yang diajukannya pun masih dapat diterima oleh pemimpin daerah baru, demi menyekolahkannya menjadi dokter spesialis sehingga dia dapat kembali dan membangun provinsinya.
Sudah 2 kali ia mengikuti ujian bahasa kedokteran, hanya 1 lagi kesempatan, di tahun ini. Namun usia bertambah pun tidak dapat dipungkiri. Berdasarkan pertimbangannza, jika ia gagal di ujian terakhir, maka perlu baginya untuk memiliki alasan tinggal lainnnya. Keberuntungan datang, dia menemukan seseorang sebagai pendamping hidup. Kebahagian bertubi datang, ditahun yang sama dia akhirnya berhasil melewati ujian bahasa dan menyelenggarakan pernikahan. Setelah ujian bahasa, ia masih harus ujian kesetaraan profesi dokter untuk berprofesi di sini dan lanjut belajar spesialisasi. Di satu sisi, ada tuntutan agar dia mengembalikan beasiswanya, jika ia memilih untuk menetap di sini. Di sisi lain dia harus berhasil ujian kesetaraan sehingga dapat berprofesi sebagai dokter di sini. Dua kali gagal ujian penyetaraan, ada 1 kesempatan lagi. Waktu berselang, lahirlah sang buah hati, 1, 2 dan 3.
Dengan berbagai argumentasinya, mulai pergantian pemimpin daerah, lama menetap, dll, seolah tidak mesti dia mengembalikan beasiswa itu. Bukan jumlah yang sedikit pada akhirnya, 6 tahun sudah dia hidup di negeri orang. Dan bukannya naif, pernikahan pun tak selalu ideal, namun harus dijalani karena ini pilihannya saat itu. Pasangan belum tentu mau/ mampu bekerja, mungkin karena kelemahan fisik ataupun mental dan fisik. Sulit hidup bersamanya perbedaan budaya dan ketidakcocokan individu.
Syukurlah seorang wanita adalah kuat. Sendiri pun dia mampu merawat keluarganya. Hari lepas hari, diterimanya perundungan yang datang, dengan harapan agar sang buah hati tetap tumbuh sehat. Harapannya untuk dapat memulai lagi kehidupan kedua.