Hai, namaku Ixora, siswa SMP di kota Bogor! Disini aku akan menceritakan bagaimana aku buat tie dye selama pandemi covid-19 ini dan menyertakan beberapa foto hasil karyaku, yang motifnya random. Selamat membaca!
Awalnya aku lihat di tiktok dan toko online yang lagi zaman banget kaos tie dye dan yang pasti juga dong lihat harganya (hehehe). Melihat harganya aku yakin bisa menguras habis uang tabungan. Rata-rata harga toko per kaos adalah Rp. 195.000, 00. Mahal banget kan?
Sebenarnya aku pas sekolah dasar negeri aku pernah mencoba membuat tie dye sebagai tugas kelompok dari sekolah. Tapi istilahnya saat itu berbeda, kami menyebutnya “batik jumputan”. Saat itu kami pakai kelereng, yang diikatkan pada kain dengan menggunakan karet. Kemudian kami menyiapkan juga bahan pewarna tekstil ke dalam panci yang berisi air secukupnya. Selanjutnya dimasukkan deh kainnya. Oiya, kainnya bisa kain kaos juga loh! Saat itu kami hanya mengenal 1 motif saja, karena belum ada ketertarikan yang mendalam dengan teknik kreasi ini. Sekarang aku menerapkannya sebagai #homecreative dalam motif yang aku desain sendiri atau dari youtube. Aku membeli 10 warna kain tekstil dengan ‘nilon’. Bahan nya bagus dan gak gampang luntur. Tanpa dimasak pun, bisa langsung digunakan untuk mewarnai bajunya.
Baju-bajunya aku minta dari anggota keluarga yang punya baju putih dan udah jelek. Biar aku bisa motif lagi, daripada beli baru menguras uang. Berawal dari situlah aku membuat kreasi tie dye yang lagi tren ini. Untuk membuat 8 kaos, aku bisa menghabiskan waktu 3 jam, termasuk menjemurnya. Encok sih iya, tapi karena aku suka aktivitas kreatif dan modifikasi barang lama, ya aku nikmati proses pembuatannya. Hehehehe.